Masyarakat Kelas Menengah “Ngehe”: Ingin Mendapatkan Pengakuan di Tengah Jepitan Ekonomi

oleh 

Sumber birokreasi

Masyarakat kelas menengah umumnya berpendidikan dan berdaya beli tinggi, dengan tingkat pergaulan kelas atas.

Selama beberapa tahun terakhir, keluhan tentang ‘kelas menengah ngehe’ telah umum terdengar di kalangan masyarakat Indonesia. Walaupun populer, tak ada definisi yang pasti akan istilah tersebut. Jelas ia tidak terdaftar di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun jika Anda mencarinya di internet, Anda akan memperoleh segambreng artikel dan gambar yang berisi beraneka ragam sikap dan perilaku yang dianggap ‘ngehe’ atau ‘ngeselin’ oleh masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, definisi ‘kelas menengah ngehe’ selalu berubah sesuai dinamika sosial, sebagai cerminan ketidaknyamanan yang terus berkembang di kalangan masyarakat dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.

Bagi orang Indonesia, istilah ‘kelas menengah’ (‘middle class’) sering digunakan untuk mendeskripsikan orang-orang yang, menurut standar masyarakat umum, kaya atau sangat kaya. Mereka punya harta yang terus bertambah. Mereka berpendidikan, punya titel, dan punya jabatan. Namun, walau mereka tergolong berada, banyak yang masih punya cicilan utang dan bergantung pada penghasilan rutin untuk mempertahankan gaya hidup mereka.

Di lingkup internasional, definisi ‘kelas menengah’ umumnya ditentukan menggunakan standar ekonomi. Bank Dunia menetapkan kelas menengah adalah kalangan masyarakat dengan penghasilan sebesar US$2–20 (sekitar Rp26–260 ribu) per hari. Dengan standar tersebut, berarti kelas menengah di Indonesia meningkat dari 134 juta jiwa di tahun 2010, menjadi hampir 170 juta jiwa (atau setara dengan hampir 70% total penduduk) di tahun 2015. Sementara itu, McKinsey Global Institute menggunakan istilah ‘kelas pengguna’ (‘consuming class’), alih-alih ‘kelas menengah’, untuk merujuk mereka yang berpenghasilan lebih dari US$3600 (sekitar Rp46,8 juta) setahun, atau sekitar US$10 (sekitar Rp130 ribu) perhari. Itu setara dengan 45 juta penduduk Indonesia (berdasarkan data tahun 2010).

Penggunaan standar bawah sebesar US$2 (sekitar Rp26 ribu) perhari oleh Bank Dunia telah dikritik karena angka tersebut dinilai tidak cukup mencerminkan kemapanan masyarakat secara ekonomis. Di Indonesia, 71% masyarakat kelas menengah memiliki pengeluaran harian yang rendah, yakni sebesar US$2–4 atau sekitar Rp26–52 ribu, sementara hanya 3% kelas menengah memiliki pengeluaran harian yang tinggi, yakni sebesar US$10–20 atau sekitar Rp130–260 ribu. Dominasi sebesar 71% tersebut, atau disebut ‘kelas menengah bawah’ (‘lower-middle class’), rentan jatuh kembali ke jurang kemiskinan, sehingga mereka juga sering disebut ‘kelas menengah rapuh’ (‘fragile middle’). Mereka tidak tergolong miskin tetapi penghasilan mereka tidak mampu menompang mereka dengan baik, di samping bahwa tingkat konsumsi mereka rendah dan kemampuan finansial mereka kurang stabil. Gaya hidup mereka jelas tidak mencerminkan gaya hidup kelas menengah.

Terlepas dari penjelasan ekonomi di atas, istilah ‘kelas menengah’ dalam artikel ini akan lebih relevan jika didefinisikan berdasarkan ciri-cirinya: masyarakat kelas menengah di Indonesia umumnya berpendidikan dan berdaya beli tinggi, dengan tingkat pergaulan kelas atas. Mayoritas kelas menengah adalah orang kota. Berdasarkan estimasi, 26% masyarakat perkotaan di Indonesia termasuk kelas menengah, sementara hanya 9% masyarakat pedesaan yang termasuk kelas menengah.

Meningkatnya kemampuan ekonomi berarti meningkat pula daya beli. Kelas menengah mulai menggeser selera mereka dari sekadar kebutuhan dasar menjadi barang-barang yang lebih mewah. Padahal baru sekali-dua belanja barang-barang yang harganya di atas rata-rata, mereka sudah sangat kritis dengan kualitas dan selisih harga walau sedikit saja, seolah tidak mau rugi. Tetapi selera mereka selera internasional—mereka mencari prestise, barang-barang bermerk, dan hiburan kelas dunia.

Dilema antara ingin berhemat dan ambisi meraih status inilah yang membuat mereka dicap ‘ngehe’. Sebagai contoh, subsidi BBM awalnya diberikan untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah. Tetapi berbagai analisis menunjukkan bahwa yang paling banyak memanfaatkan subsidi BBM justru masyarakat kelas menengah, yang punya mobil tapi tetap ingin irit. Di dunia maya, mereka dengan sombongnya mencemooh kelas menengah lain yang komplain saat subsidi BBM dihapus, tanpa sadar bahwa di dunia maya jugalah, pada lain kesempatan, mereka pamer barang-barang mahal yang mereka beli. ‘Ngehe’, memang, tetapi sesungguhnya perilaku seperti inilah yang merefleksikan konflik antara kondisi ekonomi mereka yang kerap genting dan cita-cita mereka akan kehidupan yang lebih baik.

Ciri kedua kelas menengah adalah tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dengan penghasilan yang lebih baik dan kesempatan yang lebih besar meraih beasiswa, beberapa bahkan meraih gelar pendidikan di luar negeri. Mereka tertarik dan nyambung dengan dunia politik, ekonomi, dan budaya, dan mereka secara aktif beropini di media sosial. Seringkali kelas menengah dianggap acuh tentang dunia politik dan inginnya hanya belanja-belanja, tetapi opini tersebut tidak tepat. Sejarah mencatat, masyarakat kelas menengah di Indonesia memainkan peranan penting dalam demokrasi negara. Edward Aspinall menulis bahwa meskipun peranan mereka tak terlalu menonjol di era pascareformasi, masih ada basis masyarakat kelas menengah yang antusias terhadap pilar-pilar demokrasi dan reformasi.

Contoh sederhana tentang bentuk keterkaitan masyarakat kelas menengah dengan dunia politik adalah Teman Ahok, sebuah kelompok masyarakat yang bertujuan mendukung Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk kembali mencalonkan diri sebagai gubernur pada pilgub 2017 nanti. Anggota Teman Ahok terlibat secara politik dan aktif mengawasi berbagai kekurangan dalam hal pelayanan publik. Tetapi, akibat status mereka sebagai kelas menengah, perhatian mereka umumnya tertuju pada kelas menengah juga. Mereka tidak peka akan kebutuhan masyarakat miskin dan pinggiran. Ini terlihat dari tanggapan mereka terhadap penggusuran di pemukiman penduduk seperti Kampung Pulo atau Pasar Ikan baru-baru ini, yang sarat akan sikap acuh terhadap kemalangan yang dirasakan masyarakat yang digusur.

Kelas menengah juga sebenarnya kerap berkontribusi terhadap terjadinya masalah yang selama ini mereka keluhkan. Mereka mengeluh tentang lalu lintas di Jakarta, misalnya, tetapi kemana-mana masih lebih suka pakai kendaraan pribadi. Mereka komplain tentang banjir tetapi kesadaran mereka terhadap lingkungan sangat rendah—mereka buang sampah sembarangan hingga menyumbat saluran air, dan mereka juga emoh untuk ikut kerja bakti membersihkan selokan. Sikap hipokrit dan kurangnya kepedulian sosial inilah yang juga bikin kelas menengah dicap ‘ngehe’.

Ciri terakhir kelas menengah adalah konektivitas. Dengan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, semakin mudah bagi kelas menengah untuk menjangkau berbagai tempat—baik di dalam maupun luar negeri. Semakin meningkatnya jumlah penerbangan murah membuat semakin banyak orang Indonesia mampu untuk naik pesawat. Membanjirnya smartphone murah juga membuat seluruh lapisan masyarakat kelas menengah, bahkan kelas menengah bawah, mampu memiliki smartphone.

Masyarakat kelas menengah di Indonesia sangatlah aktif di media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan Instagram. Indonesia bahkan mendapat predikat sebagai ibukotanya Twitter di dunia. Lebih dari 77 juta pengguna Facebook berasal dari Indonesia. Media sosial kini tak lagi menjadi alat untuk saling terhubung satu sama lain; ia menjelma menjadi tempat untuk mencari pengakuan akan status kelas menengah mereka. Banyak orang Indonesia mendokumentasikan perjalanan mereka, di dalam maupun luar negeri, dan aktivitas sosial serta keseharian mereka, di media sosial. Di saat mereka sudah terlalu banyak update di media sosial, di situlah mereka dicap ‘ngehe’.

Walaupun didefinisikan secara bebas dan dinamis sesuai perubahan sosial, munculnya ‘kelas menengah ngehe’ ini adalah fenomena nyata. Jika Indonesia menjadikan kelebihan demografinya sebagai aset yang harus dimanfaatkan, di tahun-tahun mendatang, kelas menengah akan tumbuh dengan pesat. Akhirnya, perilaku kelas menengah yang tadinya dicap ‘ngehe’ akan dianggap wajar karena jumlah mereka yang semakin besar. Yah, selamat deh ya!

artikel ini adalah terjemahan dari Don’t Care How, I Want It Now! Who are Kelas Menengah Ngehe–the Awful Middle Class? yang ditulis Salut Muhidin di laman Indonesia.

Kisah inspiratif Abby Rai Chrisna Mandagi a.k.a Dougy Mandagi pemuda indonesia yang mendunia

Kisah inspiratif Abby Rai Chrisna Mandagi a.k.a Dougy Mandagi pemuda indonesia yang mendunia melalui musik – Geomembraneid. Mungkin nama Dougy Mandagi masih cukup asing untuk sebagian kalangan di Indonesia. namun pernahkah anda mendengarkan lagu pada link berikut yang berjudul sweet disposition, fall together & trembling hands yang dibawakan oleh kelompok pemusik asal Australia yang telah merambah pasar musik internasional The temper trap.

ya sang pentolan  adalah pemuda asli indonesia kelahiran Bandung 20 januari 1980. dougy adalah pria asli celebes indonesia keturunan manado. dougy sendiri sempat menghabiskan masa kecilnya di Hawaii, amerika serikat mengikuti kakeknya yang diakibatkan oleh meninggalnya sang ayahanda karena suatu peristiwa kecelakaan. ayah dougy meninggal pada saat Dougy masih berusia 6 tahun. ayah Dougy sendiri adalah salah seorang yang berperan dalam perebutan kemerdekaan indonesia yang bernama Arie lasut. setelah menghabiskan masa kecil di Hawaii, Amerika serikat Dougy pindah ke Bali mengikuti sang ibunda. Tapi karena terlalu lama menghabiskan masa kecil di Hawaii, Dougy susah berkomunikasi dan akhirnya malah berbuat onar dan menjadi bahan bulying di sekolah dasar.

Dougy lalu dipindahkan ke Manado, Sulawesi utara untuk tinggal bersama om dan tantenya. Nah, di sinilah, Dougy mulai berkenalan dengan musik. karena keluarga om dan tantenya di Manado adalah keluarga gereja yang menjaga tradisi ibadah gereja. Beruntung juga, Dougy remaja memiliki impian, yaitu menggambar ilustrasi untuk Disney perusahaan besar perfilman animasi Amerika serikat. Dengan segera, Dougy tenggelam dalam kesenangannya menggambar hingga tiba saatnya untuk kuliah dan pindah ke Melbourne, Australia mengikuti sang bunda.

Sesampainya di sana, Dougy harus menerima kenyataan dirinya tidak berhasil lolos ke jurusan seni yang memang diinginkannya. Sebagai pelarian, Dougy mulai menekuni musik. Setelah lulus, Dougy tidak kunjung mendapat pekerjaan hingga mengamen dan menjadi seniman potret/pelukis di jalanan pun dilakoninya. setelah mengamen dan menjadi pelukis jalanan Melbourne ia berpindah profesi menjadi penjaga di sebuah toko pakaian di Melbourne. Setelah musik mulai mendominasi, disela-sela kesibukannya bekerja di toko pakaian Dougy pun berniat bergabung dengan sebuah band yang sedang mencari vokalis namun tidak lolos. Hal ini memotivasinya untuk membentuk The Temper Trap, awal terbentuknya the temper trap adalah momen bertemunya Dougy dengan Toby Dundas, di tempat yang sama yaitu toko pakaian tempat mereka berkerja. Toby sendiri adalah seorang drummer yang memiliki wawasan dunia musik yang luas. Setelah masuknya Toby, Jonny a.k.a Jonathon Aherne kawan lama Dougy, kemudian bergabung sebagai pemain bas. Diikuti lagi seorang teman lama Toby yakni Lorenzo a.k.a Lorenzo Sillitto, juga ikut bergabung untuk posisi pemain gitar. Sejak berkumpulnya anak-anak muda ini, mereka menamakan diri kelompok musik mereka The Temper Trap dengan mengusung aliran alternative rock. The temper trap memulai gerakan bermusik mereka dengan mengisi acara-acara musik lokal di Melbourne dengan membawakan materi dari EP pertama mereka yakni The temper trap EP seperti : Sirens, My Sun, Peter Parker’s Alter Ego. serta disusul beberapa materi dari album perdana mereka Conditions seperti Love lost, Rest, Sweet disposition, Soldier On, Fools, fader, Science Of Fear, Drum Song, Ressurection & Heart.

Album perdana mereka, album Conditions diluncurkan pada tahun 2009 dengan produser Jim Abbiss yang tidak lain produser kenamaan dunia Jim Abbiss pernah memproduseri beberapa album penyanyi internasional seperti Adele, Swedish House Mafia, Björk & Arctic Monkeys. album ini menuai sukses besar di Australia bahkan menembus pasar musik Internasional. beberapa lagu meraka dari album Conditions digunakan dalam soundtrack video game, iklan dan film seperti Rugby 08, FIFA 10, PES 2011, Colin, toyota, 500 days of summer, I’m Number 4 & No Strings Attached. Album ini pula yang membukakan jalan untuk Dougy dan kawan-kawan melakukan tur panggung kelililing dunia dari asia, eropa, amerika utara & amerika latin. album ini dinobatkan di banyak kategori di ARIA Music Awards.

Album kedua The Temper Trap dengan tema yang sama yakni The Temper Trap diriis pada akhir Mei 2012 dibawah naungan Liberatin Music (Australia), Infectious Records (Inggris) dan Glassnote Records (Amerika serikat). Album ini diproduksi oleh Tony Hoffer yang pernah memproduseri album dari band papan atas amerika serikat Foster the people. Single pertama yaitu Need Your Love, dirilis pada Maret 2012. Single kedua favorit penulis Trembling Hands dirilis pada Mei 2012. penulis juga merekomendasikan beberapa lagu yang wajib pembaca dengarkan dari album kedua ini seperti want, The sea is calling, Dreams, I’m Gonna Wait & Everybody Leaves in the End.  Album ini memenangkan beberapa pengahrgaan seperti Best Band Rock Album dan Best Group pada tahun 2012 pada ajang ARIA Music Awards. pasca rilis album self titled ini the temper trap kembali melakukan tur keliling dunia yang berakhir pada tahun 2014. Pada tahun 2012 the temper trap sempat mengisi konser kelompok pemusik kenamaan dunia coldplay sebagai suppoting act di mylo Xyloto tour. khusus pada tur keliling dunia tahun 2014 the temper trap melengkapi setlist mereka dengan beberapa materi dari album ketiga seperti Burn, On the run, closer, So much Sky & Summer almost gone. pada momentum album kedua ini pula the temper trap meresmikan Joseph Greer yang telah menemani tur the temper trap sebagai personel tambahan sejak tahun 2008 sebagai personel kelima mereka. pada akhir tahun 2013 kabar kurang menyenangkan juga menimpa fans the temper trap yaitu keluarnya sang gitaris Lorenzo Sillitto dari formasi the temper trap yang disebabkan oleh alasan pribadi yakni ingin berkarir dan mencoba hal-hal baru. kemudian pada 4 juni 2013 The temper trap merilis album mini yang berjudul The temper trap Acoustic Session EP yang berisikan 6 buah lagu versi akustik dari beberapa lagu dari album conditions dan self titiled album.

pada tanggal 10 juni 2016 The temper trap meluncurkan album ketiga mereka yang berjudul Thick as Thieves album ini diproduseri oleh Rich Cooper and Damian Taylor. juga masih pada label rekaman yang sama di 3 negara Liberatin Music (Australia), Infectious Records (Inggris) dan Glassnote Records (Amerika serikat). album Thick as Thieves mulai diproduksi pada awal tahun 2013 di berbagai tempat rekaman pribadi yang diawali di New south wales australia, london dan berakhir di Montreal Kanada. album Thick as Thieves selesai direkam pada akhir tahun 2015 dan di rilis pada tahun berikutnya. single pertama dari album ini adalah judul dari album ini sendiri yaitu Thick as Thieves yang dirilis pada 28 februari 2016 yang hanya rilis di Australia. lalu disusul single kedua yang berjudul Fall together pada 12 april 2016 yang menjadi single utama di album ketiga ini. saya sangat merekomedasikan semua lagu yang ada di album ini karena menurut saya musik alternative seperti inilah yang saya butuhkan untuk membendung arus genre pop, Rnb & musik elektronik dance yang sedang naik daun di berbagai kalangan. saya sangat merekomendasikan pembaca mendengarkan Summer almost gone, Providence, On the run, Riverina, Lost, Ordinary world & So much sky. pada 25 Agustus 2016 The temper trap merilis Lost sebagai single ketiga dari album Thick as Thieves. segera setelah album ketiga dirilis the temper trap kembali melakukan tur keliling dunia dan masih berlangsung hingga artikel ini dipublish.

Untuk anda pencinta musik anti “mainstream saat ini” seperti genre alternative saya sangat merekomendasikan untuk mendengarkan karya-katya dari the temper trap salah satunya dan tentunya masih banyak musik-musik dan kelompok pemusik diluar sana yang “anti mainstream” yang mengusung musik berkualitas yang layak untuk kita simak.




Anak muda harus menjadi “King of all trades” bukan “Jack of all trades”

Merasa bingung ngga tentang keahlian apa yang kita punya? Sebenernya gue itu jago ngapain sih? mau jualan online kah? Gue cocoknya mendalami profesi apa sih? Gue suka ini, tapi gue juga suka itu (ini ngomongin bidang pekerjaan ya, bukan gebetan).

Ngga heran, banyak banget anak SMA yang resah kalo harus milih kuliah. Milih jurusan rasanya susah. Akhirnya suka asal milih. Mana aja deh yang diterima, yang penting bokap nyokap bangga. Baru pas lulus bingung lagi harus ngapain. Kuliah udah teknik sipil, eh akhirnya kerjanya malah di bank. Mau gimana lagi, daripada nganggur. Kalo gue ngga makan, lo mau tanggung jawab?

Kisah hidup kayak gitu udah umum banget menimpa orang-orang Indonesia. Terus siapa yang salah? Bisa dibilang pendidikan di Indonesia yang membuatnya begitu. Kita terbiasa belajar banyak hal pas sekolah. Mata pelajaran macam-macam. Bahasa Inggris belum fasih, udah disuruh belajar bahasa Jerman atau bahasa Jepang. Belum lagi mata pelajaran muatan lokal. Mulai dari pelajaran elektronika, sampe tata busana pun ada.

Ini kan sebenernya lucu banget. Sekolah beranggapan semakin banyak mata pelajaran, semakin pintar pula murid-muridnya di masa depan. Padahal pas mereka dewasa, mereka selalu bingung mau ngapain. Iyalah, bisa jahit, bisa nyolder, bisa bahasa Jepang juga. Kan bikin bingung mau jadi penjahit, teknisi, atau penerjemah?

Ada satu buku yang cukup kontroversial berjudul Why Asians Are Less Creative Than Westerners(2001). Pengarangnya, Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, bilang kalo murid-murid di sekolah Asia memang dididik menjadi ‘jack of all trades, but master of none’. Artinya, kita diarahin untuk tahu sedikit tentang banyak hal, tapi ngga mampu menguasai apapun.

Jack of All Trades, berkedok “multi-talented”?

Bayangkan, sejak kita kecil, kita udah dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Secara kuantitas mungkin banyak, tapi secara kualitas masih payah banget. Berapa banyak sih dari kita yang masih inget sama pelajaran-pelajaran sekolah? Kayak saya, misalnya, yang waktu SMA belajar bahasa Jepang. Sekarang baca huruf hiragana di botol teh aja udah ngga bisa.

Sialnya, si “Jack of All Trades” ini udah mendarah daging banget bagi orang-orang Indonesia. Mau nyalahin pendidikan juga percuma, kecuali kita Anies Baswedan. Mending kita lihat aja deh kenapa ada orang-orang yang ngga jadi “Jack of All Trades” itu. Kira-kira kenapa mereka bisa hebat kayak gitu, sementara kita gini-gini aja?

Sederhana kok. Mereka pasti udah fokus pada satu bidang atau profesi. Jago olahraga? Ya udah coba jadi atlet, jangan malah belajar akuntansi. Kalo udah nyemplung ke suatu hal yang kita bisa dan suka, terus asah kemampuan kita. Jangan cepet puas, karena masih banyak orang yang lebih jago. Apalagi malah melipir ke bidang lain yang lo lebih ngga jago.

Intinya sih, jangan jadi another “Jack of All Trades”. Di Indonesia udah banyak banget yang kayak gitu. Coba dan berusaha jadi “King” yang masih langka di Indonesia. Sekarang, bidang atau profesi apa yang mau lo kuasai?

Sumber : ziliun

Kaum miskin urban: anak-anak muda yang kere, kelaparan tapi eksis

(Catatan Editor: Ini adalah terjemahan artikel “The Urban Poor You Haven’t Noticed: Millennials Who’re Broke, Hungry, But On Trend” yang ditulis Gayatri Jayaraman di laman Buzzfeed tanggal 5 Mei 2016. Artikel asli tulisan ini bersituasi di negara India. Nama tempat, mata uang, dan aspek lainnya menyesuaikan yang sebenarnya di India.)

Saya mulai menyadari hal ini sejak terkejut menyaksikan seorang pemenang kontes kecantikan level nasional tampil di klub malam remang-remang di Santacruz West. Kata teman yang mengajak saya ke situ, wanita itu mulai bekerja di sana waktu dia menunggu lowongan jadi artis Bollywood. Untuk dapat peran, dia harus sering terlihat melenggang di karpet merah dan pesta-pesta, makanya dia butuh beli sepatu hak tinggi dan gaun. Pertunjukan demi pertunjukan di klub itu memberikannya banyak uang. Jadilah klub itu sumber penghasilan utamanya.

Saya kenal seorang manajer pemasaran, masih muda, yang nekat kredit mobil waktu dapat gaji pertamanya tapi sekarang tidurnya di mobil. Gajinya habis untuk bayar kontrakan rumah dan cicilan mobil, tak tersisa untuk makan. Dia parkir di suatu tempat, tapi untungnya Mumbai masih tergolong kota yang aman.

Ada juga teman wartawan junior. Selama beberapa saat, dia jarang masuk kerja. Makin kelihatan kurus pula. Dia bilang itu karena dia jogging setiap sore. Tapi saat dia jarang muncul waktu makan siang, atau menyeruput kopi sepanjang hari, saya baru sadar. (Saya ngeh kalau ada yang janggal karena saya dulu pernah begitu juga.)

Saya whatsapp dia. Itu satu-satunya cara mengobrol empat mata tanpa ketahuan orang lain.

“Kamu punya uang untuk makan siang, gak?”

Ternyata dia memang lagi bokek.

Dia bilang kalau lagi punya uang, dia sabar-sabar menahan lapar biar bisa mampir ke Le Pain Quotidien* untuk beli sandwich sisa harian yang didiskon jadi 200 rupee atau sekitar Rp40 ribu kalau malam.

Padahal dengan uang segitu, dia bisa beli makanan di kantin. Tapi menurutnya, makan tidak lebih penting dibanding eksis untuk makan roti di Le Pain Quotidien.

Inilah kaum miskin urban, gejala yang lagi melanda sebagian besar orang India. Mereka sebenarnya sama sekali tidak “miskin”. Tapi mereka lapar dan bokek. Inilah wujud masyarakat metropolitan umur dua-puluhan yang terlalu memedulikan tekanan sosial di sekelilingnya dan menghabiskan hampir seluruh gajinya demi gaya hidup dan penampilan yang mereka yakini berpengaruh pada pekerjaan mereka.

Beban gaya hidup ini tidak bisa dicoret dari daftar pengeluaran mereka: baju-baju dan perawatan tubuh, kongkow dan makan malam di tempat mewah, biaya transport naik Ola** atau Uber karena harus kerja sampai jam satu pagi, dan tagihan kopi Starbucks yang harus dibeli buat ketemu klien. Tidak lupa, sepatu hak tinggi dan gaun.

Kalau saldo rekening sudah sekarat di tanggal 20-an, mereka berpikir balasannya tidak mungkin saat itu juga, tetapi nanti: waktu gaji naik, waktu dapat promosi jabatan, atau syukur-syukur orang tua lagi baik mau transfer uang.

Pengaruh mereka luas. Inspirasi mereka datangnya dari kisah para pengusaha muda yang pinjam uang dari perusahaan modal untuk membangun bisnis, yang katanya berhasil memutar setiap perak uang menjadi seratus kali lipat. Tapi kisah yang mereka dengar adalah tentang Mukesh Ambani, yang diwarisi perusahaan besar kemudian bisa membangun istana megah, bukannya tentang Dhirubhai, yang tinggal di rumah kecil dan membangun perusahaan besar. Kisah yang mereka dengar adalah tentang Katrina Kaif yang menghabiskan 50 ribu rupee atau sekitar Rp100 juta rupiah untuk mengecat rambutnya. Itulah sebabnya mereka meyakini bahwa untuk menghasilkan banyak uang, kita harus menghabiskan uang yang banyak pula.

Demi bisa kuliah di kampus yang bagus, kita rela keluar uang banyak untuk bayar semesterannya. Demi dapat pekerjaan, kita habiskan tabungan untuk sekolah sampai S3 kalau perlu. Demi promosi jabatan, kita beli jas dan minuman jamuan.

Kita berpenampilan demi pekerjaan yang diimpikan, tetapi lupa bahwa sebagian besar gaji kita yang terpangkas untuk itu seharusnya digunakan untuk berpenampilan sesuai pekerjaan yang sekarang.

Setiap koran dan media memasang tajuk utama tentang apa yang perlu kita makan, tampilkan, dan pakai untuk jadi sukses. Ke mana kita harus liburan, apa parfum yang kita pakai, mobil apa yang harus kita kendarai. Tapi mereka tidak mengajarkan kita cara membayarnya.

Apa yang tersisa di diri kita adalah segerombolan anak umur dua-puluhan yang berusaha lari meninggalkan identitas pengonsumsi nasi kucing dan es teh manis, demi disangka pengonsumsi burger dan kola. Dari situ kemudian lari lagi demi dikira penggemar keju dan champagne.

Waktu saya mulai tinggal mandiri, sekitar 15 tahun lalu, gaji saya cuma 10.000 rupee. Untuk kontrak rumah habis 4.000 rupee, penitipan anak 4.000 rupee, dan 2.000 rupee sisanya untuk ongkos dan listrik. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, saya pakai kartu kredit. Saya masih umur 25 tahun, anak saya satu tahun, dan kadang kami beli es krim, nonton bioskop, atau menikmati hiburan juga pakai kartu kredit. Ketika pindah kerja dengan gaji yang lebih tinggi, kartu kredit saya mencapai limitnya dan harus segera dibayar. Selisih kenaikan gaji itu saya gunakan untuk melunasi, karena saya sudah memakai uang yang malah belum saya terima.

Cepat saya pahami, bersama kenaikan gaji, biaya kebutuhan juga semakin tinggi. Selama menjalani pekerjaan saya yang pertama, rasanya punya satu jins dengan tiga atasan yang dipakai bergantian tiap hari juga sudah cukup. Jabatan yang semakin meningkat membuat saya perlu pakaian yang lebih bagus. Saya diharuskan tampil “berwibawa”. Makan siang di sini, senang-senang di situ, lalu rapat di kedai kopi mewah.

Saya berusaha keras menentang lingkungan yang bersekongkol menjerat profesional muda ke jurang kebangkrutan. Saya selalu menghitung dalam hati sebelum memutuskan beli sesuatu. Terkadang saya hanya beli satu botol bir dan meminumnya sedikit-sedikit.

Sekarang, di mana pun, saya bisa menebak mana orang-orang yang di ambang kebangkrutan: vegetarian yang tidak makan salad pembuka, orang yang cuma minum air putih, atau junior yang mengaku sudah makan untuk menolak tawaran makan malam. Dan ketika, setelah makan bareng, orang yang bersama mereka dengan santainya mengajak untuk patungan, kelihatan mereka inilah yang pura-pura menunduk.

Saya juga pernah seperti itu. Kita tidak bisa menolak ajakan seperti itu karena nanti kita terkesan pelit. Jadi, terlepas dari apakah kita mampu membayar makanan yang memang kita pesan untuk kita sendiri, mau tidak mau kita juga harus ikut bayar makanan yang dipesan teman kita.

Kemudian, recehan logam terasa sangat berharga. Kita mencari-cari recehan yang menyelip di pojok sofa. Kita menunggu kantor sepi lalu naik bus pulang ke rumah.

Sekarang, saya kadang sengaja berpapasan dengan teman kantor yang masih junior dan bertanya, “Udah makan belum? Saya traktir kopi, yuk? Nanti pulangnya mau bareng, nggak?” Terkadang, mereka gengsi dan menolak tawaran itu. Terkadang juga, gengsi mereka runtuh dan mereka mengangguk.

Orang tua mereka, generasi yang jarang berdiskusi soal uang, mengajari mereka bahwa tidak ada harga yang terlalu mahal untuk kebahagiaan diri sendiri. Kalau orang tua mereka menelepon dan menawarkan diri mentransfer mereka uang, mereka bilang tak perlu, semuanya masih bisa diatur. “Iya, Pah, makannya dijaga kok, di kantor baik-baik saja.” Dibesarkan oleh orang tua yang mengorbankan segalanya untuk kebahagiaan mereka, anak-anak ini sebenarnya diam-diam belajar hidup prihatin.

Orang yang bisa melewati masa sulit selalu dilabeli “tangguh”, padahal “tangguh” berarti perut lapar dan isak tangis yang tertahan. Terkadang, saya merasa saya sudah melalui masa-masa itu.

Baru-baru ini, saya sedang mewawancarai seorang pelamar yang memotong pertanyaan saya hanya untuk bilang, “Sis, supir saya HP-nya lebih bagus dari punyamu,” sambil tertawa. “Beli iPhone, kek!”

Penampilan saya sudah mentereng. Saya punya rumah. Tabungan juga lebih dari cukup. Tapi bahan ledekan kok tidak juga berubah selama 10 tahun.

Bulan lalu, saya mulai nge-twit kaum miskin urban ini, dan banyak yang merespon, “saya juga”.

Satu orang mengaku bahwa selama tiga tahun di Jerman, dia cuma makan tomat, menghemat uang agar bisa beli coklat untuk keluarganya ketika pulang kampung. Ada yang bilang, “Semuanya baik-baik saja kok!” lewat telepon jarak-jauh ke kampung halaman hanya agar ibunya berpikir pengorbanan ibunya menjual gelang untuk ongkosnya mengembara tidak sia-sia.

Ada yang tidur di kasur single dan menyimpan sepatu kets di kolong meja kerja untuk dipakai jalan kaki sepanjang 8 km saat pulang kantor setiap malam.

Saya juga pernah dengar cerita soal anak-anak bagian pemasaran yang kelaparan setiap hari hanya untuk ngopi di hotel bintang lima.

Ada juga seorang ayah yang tidak pernah liburan selama 13 tahun hanya agar bisa membiayai pendidikan anaknya di luar negeri.

Ada yang pernah bertahan seharian hanya minum air dan menumpang di truk untuk berangkat ke kampus.

Ada yang dijuluki pelit karena tidak pernah makan di luar.

Di negara yang wabah kelaparan nyata terjadi di mana-mana, “kelaparan” yang semacam ini datangnya dari pilihan gaya hidup. Entah bagaimana, kita telah membangun budaya yang menempatkan penampilan sebagai nilai utama, hingga kita rela menghabiskan banyak uang untuk kelihatan kenyang ketimbang menyisihkan sedikit uang untuk benar-benar makan.

“Kelaparan” ini menyentuh setiap orang dengan cara yang berbeda-beda—bisa sementara atau selamanya, bisa ringan atau parah, bisa sekali atau berkali-kali. Tapi sekali kita menyadari hal itu di sekeliling kita, sulit sekali untuk mengabaikannya. Kita jadi anggota suatu kaum yang mengerti kenapa rekan kerja kita tumben-tumbennya bawa bekal makan, kelihatan kurusan, dan menghabiskan waktu sampai malam di kantor agar tidak perlu bayar jemputan. Kalau dahulu, walau sebentar, kita pernah merasakan “kelaparan” seperti itu, kita akan sadar bahwa ternyata semua orang pun begitu.

____

Catatan Kaki:

*) restoran roti mewah dari Brussel yang kini telah terwaralaba secara internasional

**) layanan transportasi daring yang populer di India

Ditulis oleh

Sumber : http://birokreasi.com/